December 11, 2012

Memories of Love 7 (Last Chapter &Closing)


Memories of Love 1
Clara senang sekali karena malam itu ia akan menghabiskan waktu terakhirnya bersama teman-teman tercinta. Keesokan hari nya Clara akan menerima keputusan Dinas tentang hasil kelulusan mereka. Malam itu Clara merasa berbeda dari hari biasanya. Acara yang di gelar dengan sebutan “Prom Night”mengubah suasana sekolah menjadi lebih romantis. Lampu kelap kelip,redup terang dan panggung yang di hias khusus untuk acara malam itu membuat tempat itu tidak lagi dapat di sebut sekolah .........

Memories of Love 2
Clara menatap jam dindingnya pagi itu. Sudah pukul 9 pagi dan tidak ada inisiatif dalam dirinya untuk bangun dari tempat tidurnya. Mimpi itu.. beberapa malam ini memang sempat mengganggu malamnya. Mimpi yang aneh, membingungkan sekaligus menoreh luka lama. Bukan luka sebenarnya, karena Clara sudah melupakan luka itu dan menggantikannya dengan sebuah pelajaran dan pengalaman yang berarti. Orang itu kembali menghampiri tidurnya, hampir tiga malam belakangan ini. Senang atau tidak? Karena yang di impikannya hanya sebuah ilusi tentang kebahagian masa lalu keduanya. Rian bolak-balik masuk ke dalam mimpinya ...............

Memories of Love 3
Verlyta menatap dirinya di cermin. Setelah yakin bahwa dirinya sempurna, ia beranjak keluar rumahnya. Di depan, Evelyn bersama Rian telah menunggunya. Ia mengenakan kaos berwarna putih gading di padukan dengan celana pendek hitam kesukaannya. Ia tersenyum percaya diri dengan rambut panjang sepunggungnya yang berkibar lembut di tiup angin. Walaupun Evelyn sahabat karibnya dan Rian, ia tidak suka melihat keduanya bersama. Ia ingin memiliki Rian seorang dan ia tidak ingin Rian dekat dengan orang lain saat ia sedang bersama dengan Rian .............

Memories of Love 4
Satu hal.. Satu hal yang baru saja terungkapkan dari seseorang yang dulu pernah singgah di hati Clara. Satu hal yang tidak mungkin Clara lupakan karena adanya suatu kesaksian yang tidak pernah di ungkapkan oleh seseorang itu sebelumnya.Satu hal yang membuat Clara terdiam.. kaget.. dan tidak percaya akan penglihatannya saat ia membaca tulisan seseorang tersebut. Satu hal yang sempat terlupakan.. Trefio. Seseorang yang jauh.. berbeda.. yang awalnya sama sekali tidak di kenal Clara .............

Memories of Love 5
Rasa bahagia menyelimuti hati Clara hari itu. Ia mengambil pena berwarna merah miliknya, dan membuat gambar kecil berbentuk hati di tengah-tengah tanggal bertuliskan angka dua puluh lima. Tepat pada tanggal dua puluh lima bulan ini, Cleo meminta Clara untuk menjadi kekasihnya. Clara bahagia karena tidak terasa sudah dua tahun ia menghadapi rintangan bersama dengan Cleo. Clara tau, secuek apapun Cleo padanya, Cleo tetap menyayanginya. Dua tahun itu tidak terasa bagi Clara. Sudah dua tahun ia menghabiskan hampir seluruh kehidupannya dengan Cleo. Kebersamaan mereka ......

Memories of Love 6
Clara menatap Yehan. Hari itu adalah hari pertemuannya pertama kali dengan Yehan setelah beberapa tahun mereka tidak pernah bertemu. Clara sangat merindukan Yehan. Bukan karena ia kembali jatuh cinta pada Yehan, tidak. Tapi ia sangat merindukan kehadiran Yehan yang dulu sempat menjadi tempat perlindungan paling baik yang pernah Clara temui. Ia rindu akan perteman mereka yang harus hancur karena Yehan jatuh cinta pada Clara .....

Memories of Love 7 (Closing)
Tiga tahun Clara menunggu untuk menulis cerita ini. Tiga tahun Clara ingin memperlihatkan apakah hubungannya dengan Cleo sekarang dapat melebihi waktu yang pernah dijalaninya dengan Rian. Tiga tahun akhirnya Clara yakin, bahwa Cleo adalah pilihan nya yang tepat. Tiga tahun sudah mereka menjalani hubungan. Semakin lama, semakin lama semua perasaan, semua penglihatan, semua kenangan tentang Rian memudar. Clara percaya dengan Trefio yang mengatakan bahwa suatu kenangan tidak akan bisa dilupakan, semua kenangan, baik itu manis maupun pahit didalam kehidupan akan selalu teringat, hanya saja, yang dapat dihindari adalah kenangan itu semakin memudar, mungkin hanya potongan-potongan kecil kenangan yang dapat kita ingat, tidak lagi sesempurna dulu ketika kita yang melewati sendiri peristiwa-peristiwa itu.
Satu hal yang dapat dibuktikan oleh Clara adalah, bukan cintanya yang tidak bisa melebihi tiga tahun, bukan salahnya ketika hubungan Clara dan Rian hancur, hanya saja, Rian tidak dapat menyelesaikan waktu tiga tahun pacarannya dengan Clara, dan Clara mampu membuktikan bahwa sampai tiga tahun pun, dirinya dan Cleo dapat menjalani hubungan mereka dengan baik. Bertengkar? Pasti. Tidak mungkin suatu hubungan berjalan tanpa selisih paham, tapi Clara yakin, bukan dengan mengakhiri hubungan jalan keluarnya, dan toh sekarang cinta tetap bersemi dihati Clara dan Cleo, suatu pengerat hubungan yang tidak terlihat makin membuat keduanya sulit untuk melepaskan diri satu dengan yang lainnya, dan mereka mulai sulit untuk melakukan  aktivitas secara terpisah.

Box of Memories
Hidupku, enam tahun belakangan ini sangat.. sangat.. bermakna dan penuh dengan lika-liku kehidupan. Hidupku saat aku masih duduk di bangku sekolah, sangat rumit namun sangat berarti. Cerita ini, menjadi sebuah kenangan pahit..manis..asam..asin kehidupan selama aku duduk dibangku sekolah.
Terima kasih V.I yang berhasil menjadi cinta pertamaku yang kata banyak orang akan sulit dilupakan. Hadiah ulang tahun darimu, kalung pemberianmu dari Paris, gantungan pemberianmu dari Hongkong dan kalung pemberianmu saat kali pertama kita resmi berpacaran serta cincin dan foto kita, masih tersimpan rapat di sini.
Terima kasih W.G yang memelukku dan meminta maaf dengan tulus saat kita sama-sama menangis di waktu Prom Night malam itu.
Terima kasih untuk J.M yang sampai detik ini masih menjadi teman baikku. Sahabat yang masih mau mendengarkan curhatku walau kita sudah sama-sama sibuk. Tetapi kenangan kita yang tertulis di dalam buku curhat masih tersimpan dilemariku sampai saat ini, dan mampu kembali menguak cerita lama dengan sangat..sangat.. lengkap.
Terima kasih J.D yang pernah menghiburku setiap malam dengan suara dan permainan gitarmu yang sangat menggagumkan.
Terima kasih K.H yang sepenuhnya sudah melupakan hal-hal buruk tentang diriku dan mau kembali menjadi sahabatku selama 10 tahun kita saling mengenal.
Terima kasih J.K yang sampai detik ini, menjadi sahabatku yang tulus, teman yang paling baik, laki-laki yang mau berkorban banyak, baik dulu, maupun sekarang.
Dan aku sangat berterima kasih untuk kekasihku, K.K yang sangat menyayangi dan mencintaiku sampai detik ini. Yang rela menjadi tempat ku menangis dan bahagia, yang mampu mengembalikanku ke dunia ini saat aku merasa sudah hampir jatuh ke lubang yang paling dalam waktu aku mengetahui bahwa V.I satu kelas dengan kita.
Dan terima kasih untuk segala kenangan yang pernah diberikan dari kamu…kamu.. dan kamu yang pernah memberiku kebahagiaan, makna dan arti hidup yang sangat mendalam. Terima kasih.

July 30, 2012

Box Of Memories (Part 4 END)

Masuk ke kelas tiga SMA, aku hampir mati ketakutan. Aku dan V.I bertemu di kelas yang sama. Yang ku ketahui adalah saat itu, W.G sebagai kekasih V.I meminta agar dirinya dimasukkan di kelas yang sama dengan V.I. untung saja hal tersebut tidak benar-benar terjadi, karena pasti, saat itu aku sudah meminta untuk di pindahkan dari kelas mantan kekasihku.

Hari-hariku menjadi lebih tegang dan menyakitkan. Banyak hal-hal yang berusaha untuk ku jauhi dan tidak ingin ku lihat. W.G dan V.I selalu berpacaran di depan mataku. Entah dikelas, ataupun diluar kelas saat beristirahat. Tapi aku sadar, aku harus menyerah. Aku harus mencari pengganti, dan aku harus bahagia untuk V.I dan W.G.. lalu aku melakukannya.

Akhirnya aku bertemu dengan K.K. ia yang sampai saat ini mengisi hidupku dengan cinta. Tidak mudah sampai akhirnya aku dapat berhubungan dengan K.K. saat itu K.K merupakan laki-laki yang tampan menurutku. Aku menyukainya, tetapi ia tengah berhubungan dengan L.D. tapi karena hubungan mereka tidak berjalan terlalu mulus, akhirnya K.K memutuskan hubungannya dengan L.D dan memintaku untuk menjadi kekasihnya. Tepat pada Natal tiga tahun yang lalu, kami resmi berpacaran.

Satu hal yang akhirnya aku rasa kembali seperti semula. Pada saat perpisahan SMA, aku mengetahui bahwa hubungan V.I dengan W.G juga berakhir. Aku dan K.K resmi berpacaran. J.K dan R.I akhirnya berpacaran, L.D membenciku, K.H berpacaran dengan A.D, mantan kekasih J.D dulu. Dan tepat satu tahun yang lalu, aku mengetahui bahwa aku berhasil kembali berbaikan dengan K.H. Aku dapat kembali berkomunikasi dengannya setelah ia berada jauh di Negara lain. Kami pernah bertemu tahun lalu. Aku, K.H dan beberapa teman gereja kami bertemu dan kami makan bersama. K.H duduk di hadapanku kala itu. Kami banyak berkomunikasi, ia masih sama seperti K.H yang ku kenal dulu. Waktu itu aku pernah datang kerumahnya bersama dengan beberapa teman gereja. Kala itu aku meminta obat maag darinya. Hal terpenting yang ku ketahui saat itu adalah, K.H masih memperhatikanku. Hal tersebut baru benar-benar ku ketahui saat seorang sahabat gerejaku mengatakan bahwa K.H masih peduli padaku dan tidak lagi membenciku ketika ia bertanya dengan raut wajah cemas bercampur serius, “Kenapa? Kamu sakit maag?” aku bahagia.

Hidupku, enam tahun belakangan ini sangat.. sangat.. bermakna dan penuh dengan lika-liku kehidupan. Hidupku saat aku masih duduk di bangku sekolah, sangat rumit namun sangat berarti. Cerita ini, menjadi sebuah kenangan pahit..manis..asam..asin kehidupan selama aku duduk dibangku sekolah.

Terima kasih V.I yang berhasil menjadi cinta pertamaku yang kata banyak orang akan sulit dilupakan. Hadiah ulang tahun darimu, kalung pemberianmu dari Paris, gantungan pemberianmu dari Hongkong dan kalung pemberianmu saat kali pertama kita resmi berpacaran serta cincin dan foto kita, masih tersimpan rapat di sini.

Terima kasih W.G yang memelukku dan meminta maaf dengan tulus saat kita sama-sama menangis di waktu Prom Night malam itu.

Terima kasih untuk J.M yang sampai detik ini masih menjadi teman baikku. Sahabat yang masih mau mendengarkan curhatku walau kita sudah sama-sama sibuk. Tetapi kenangan kita yang tertulis di dalam buku curhat masih tersimpan dilemariku sampai saat ini, dan mampu kembali menguak cerita lama dengan sangat..sangat.. lengkap.

Terima kasih J.D yang pernah menghiburku setiap malam dengan suara dan permainan gitarmu yang sangat menggagumkan.

Terima kasih K.H yang sepenuhnya sudah melupakan hal-hal buruk tentang diriku dan mau kembali menjadi sahabatku selama 10 tahun kita saling mengenal.

Terima kasih J.K yang sampai detik ini, menjadi sahabatku yang tulus, teman yang paling baik, laki-laki yang mau berkorban banyak, baik dulu, maupun sekarang.

Dan aku sangat berterima kasih untuk kekasihku, K.K yang sangat menyayangi dan mencintaiku sampai detik ini. Yang rela menjadi tempat ku menangis dan bahagia, yang mampu mengembalikanku ke dunia ini saat aku merasa sudah hampir jatuh ke lubang yang paling dalam waktu aku mengetahui bahwa V.I satu kelas dengan kita.

Dan terima kasih untuk segala kenangan yang pernah diberikan dari kamu…kamu.. dan kamu yang pernah memberiku kebahagiaan, makna dan arti hidup yang sangat mendalam. Terima kasih.

***

Box Of Memories (Part 3)

Tidak lama setelah itu, aku bertemu dengan J.D dan K.H di gereja. Mereka mulai memanjakanku dengan hal-hal yang bersifat romantis. Keduanya, mendekatiku dengan cara yang berbeda. Aku berhubungan dengan K.H hampir empat bulan. Aku tau ia sangat menyayangiku. K.H memainkan piano untukku hampir setiap hari saat ia menghubungiku. Instrument lagu “At The Cross” adalah lagu yang sangat ku sukai. Ia memberikanku CD berisikan lagu tersebut, agar lagu itu dapat ku dengar saat ia tidak dapat memainkan lagu tersebut. Tangannya dengan sangat indah bermain di tuts-tuts piano, dan aku menyayanginya.

Lalu J.D datang. Ia juga menyuguhkan cinta dalam bentuk yang berbeda. J.D masuk kedalam hidupku dengan sangat…sangat.. sangat berbeda. Saat itu aku sudah lama kenal dengan J.D. ia adalah teman paling angkuh yang pernah kutemui. Ia bukan orang romantis seperti K.H. J.D memiliki sifat cuek seperti V.I, dan aku dekat dengannya.

J.D dan aku dekat hampir enam bulan. Ia memainkanku lagu setiap harinya lewat gitarnya. Ia bernyanyi untukku setiap malam dengan gitar kesayangannya. Ia menelponku berjam-jam sampai orangtuanya memanggil untuk makan. Lalu ia akan menghubungiku lagi setelah itu. Hidupku sangat indah setelah kehilangan V.I. aku pikir, itulah saat dimana aku sudah dapat melupakan cinta pertamaku. Tapi aku salah. Aku malah menyakiti K.H dengan jelas saat aku lebih memilih J.D. dan aku menghancurkan J.D dengan satu kalimat yang membuat J.D lalu berhenti mencariku saat itu juga. Aku menghancurkan hubunganku dengan kedua orang yang sangat ku sayangi dan ku hargai.

Entah apa yang ku lakukan kemudian. Aku kehilangan arah dan aku kembali memikirkan V.I. ia tidak mudah hilang dari hadapan dan pikiranku. Aku kemudian bertemu dengan J.K. ia, laki-laki paling cuek dan angkuh yang pernah ku kenal. Berbeda lagi dengannya, aku dekat dengannya… sampai sekarang. Ia adalah sahabat laki-laki yang sangat..sangat… sangat asik.

J.K dulu selalu memanggilku dengan sebutan “princess”. Ia tidak banyak berbicara. Kami selalu berkomunikasi lewat sms. Ia selalu menegurku saat kakiku tidak berhenti untuk bergerak saat kami tengah duduk didalam kelas. Ia adalah seorang yang sangat pemalu. Aku bahagia karena aku masih mengenalnya, hingga saat ini. J.K adalah sahabat, teman curhat sekaligus teman bergosip yang paling menyenangkan. Setidaknya ia masih ada untukku, hingga saat ini, dan aku tidak berniat untuk menyakitinya sampai kapanpun. Aku tidak mau hubunganku dengan J.K berakhir seperti hubunganku dengan J.D yang sampai saat ini tidak mampu diperbaiki. Mungkin saat ini semua orang berpikir bahwa aku adalah perempuan paling jahat. Beberapa orang menganggap ku telah menjadi perempuan jahat yang menghancurkan hubungan J.D dengan A.D. aku sangat meminta maaf akan hal tersebut.

***

Box Of Memories (Part 2)

Alangkah indahnya saat waktu seolah-olah berputar dengan sangat lambat ketika aku bersamanya.

Aku sempat putus dengan V.I kala itu, ketika aku merasa ia sedikitnya berubah. Tetapi kami tetap dekat dan akhirnya kembali berpacaran seperti dulu, kali ini jauh lebih indah.

Kami pertama kali berciuman saat duduk di kelas tiga SMP. Aku mencintainya, dan itu adalah bukti ia juga mencintaiku dengan balas mencium ku. Kami larut dalam ombak cinta yang begitu indah dan berdebur kencang.

Hampir tiga tahun akhirnya kami sama-sama masuk dan duduk di bangku SMA. Masa indah yang pernah ku jalani di SMP harus sedikit pudar karena aku merasa V.I dan diriku tidak lagi mampu bermesraan seperti dulu. Banyak kakak kelas yang mengetahui hubungan kami lalu mengerjai kami saat MOS SMA. Masa Orientasi Siswa adalah masa terakhir ia menatapku dengan cinta. Setelah itu, hubungan kami mulai renggang. Tidak ada lagi telpon tengah malam seperti dulu. Tidak ada lagi tatapan mesra dan pegangan tangan darinya. Ia mulai menghindar.

Pertengahan tahun dikelas 1 SMA akhirnya hubungan kami meledak menjadi sebuah boomerang bagi dirinya. Hampir satu sekolah termasuk guru-guru mengetahui bahwa V.I dan aku berhenti hubungan. Banyak yang menyayangkan hal tersebut karena kami telah melewati hubungan selama kurang lebih tiga tahun. Cintaku kandas, dan aku kehilangan V.I. beberapa hari setelah V.I memutuskan hubungan, ia jujur padaku bahwa sebenarnya ia menyukai wanita lain berinitial W.G. Perempuan itu… sangat berbeda denganku. Mereka pertama kali dekat saat V.I kehilangan anjingnya tersayang yang tidak sengaja terlindas mobil dirumah. Saat itu V.I sangat terpukul dan berusaha untuk bercerita denganku. Aku memang menjawabnya, aku berusaha menghiburnya dengan caraku, tetapi V.I merasa aku tidak mampu menghibur dirinya. Lalu tidak sengaja ia menceritakan hal tersebut kepada W.G. Perempuan itu mampu membuat V.I tenang dan tidak lagi bersedih. Aku di anggap tidak mampu mendengarkan curhatnya.

Aku menyesal. Kupikir hubungan kami yang berjalan tiga tahun itu akan lebih mudah saat ia dan aku bertukar cerita. Harusnya, aku dan V.I mampu menerima dan mendengarkan satu sama lain. Tapi takdir memang berkata lain. Aku benar-benar kehilangan V.I untuk selamanya saat aku mendekati W.G. Aku ingin mengetahui siapa dirinya. Aku ingin mengetahui apa lebihnya ia dibandingkan aku. Aku ingin ia tau bahwa ia secara tidak langsung, telah menghancurkan hubunganku dengan V.I.

Aku hancur, 3 bulan pertama. Hidupku terasa seperti neraka. Nilai ku langsung hancur berantakan. Aku menangis hampir setiap malam. Lalu suatu hari, aku merasa ada secerca harapan muncul. V.I menghubungiku, mengajakku kerumahnya, dan aku iyakan ajakan itu. Aku berbicara dengannya, kupikir ia dapat berubah pikiran dan mau kembali mencintaiku, tapi aku salah. Karena saat ia mengajakku kerumahnya, ia sudah berpacaran dengan W.G.

***

Box Of Memories (Part 1)

30.07.2012

Hari ini, aku membongkar barang-barang milikku yang dulu. Hari ini, aku tidak sengaja menemukan tumpukan kalung dan cincin yang pernah ku kenakan dulu. Hari ini aku membongkar seluruh kenanganku yang ku tumpukkan paling bawah didalam lemariku, dan hari ini aku kembali bernostalgia dengan kenanganku. Aku mengingatnya. Setiap titik dan koma, setiap detail yang pernah ku lalui, aku mengingatnya. Ingatan itu berhasil mencuat kembali karena aku membaca tulisanku yang dulu. Cerita yang pernah ku simpan, buku curhat yang pernah ku tulis dengan sahabatku, juga tulisan orang yang dulu ia tumpahkan lewat cerita.

Cerita ini bermula dari kurang lebih enam tahun yang lalu. Aku E.V, bersahabat dekat dengan J.M yang memiliki teman dekat lainnya yakni D.U, E.J, dan P.A. aku, J.M dan D.U sama-sama menyukai laki-laki yang sama, V.I. ia seperti seorang yang terkenal, keren, dan dikenal semua orang. Setiap orang suka padanya termasuk guru-guru. Menurutku sedikitnya ia merasa bahwa dirinya terpandang dan terkenal, tapi.. ya, ku akui memang begitulah dirinya. Aku, J.M dan D.U dekat dengan V.I. aku tidak tau siapa lagi yang dekat dengannya saat itu selain E.J dan G.S.

Dari teman-teman lain, aku mengetahui bahwa G.S menyukai V.I. Bedanya denganku adalah G.S sudah lebih dulu dekat dengan V.I sebelum kami berhasil dekat dengannya.

Aku, J.M dan D.U berhasil dekat dengan V.I pada akhirnya. Sedikit banyak yang kuingat adalah V.I kurang menyukai D.U karena sifatnya yang menurut V.I terlalu agresif. Well.. aku dan J.M akhirnya menjadi teman dekat sekaligus teman curhat untuk V.I. Seiring berjalannya waktu, atas usul sahabat V.I berinitial Y.R, aku dan V.I akhirnya berpacaran. Saat itu aku duduk di kelas 1 SMP. Kami berpacaran! Aku berpacaran dengan orang yang kata kebanyakan orang adalah laki-laki paling terkenal di sekolah saat itu. Aku, E.V berpacaran dengan V.I.

Banyak yang kami lewati bersama. Di kelas 1 SMP, ia sering menggangguku. Itulah cara kami berpacaran, dengan saling mengganggu satu sama lain di dalam kelas. Lalu malamnya, V.I secara terus-terusan akan menghubungiku. Nomor handphone dan rumahnya sudah ku ingat luar kepala saat itu. Ia akan menghubungiku malam hari, lalu akan dilanjutkan lagi tengah malam. Kalau ku pikir sekarang, aku begitu hebat karena dapat bangun setiap kali telponku bergetar. Tidak butuh waktu lama untuk membangunkanku, karena pada getaran pertama, aku akan langsung terbangun dan mengangkat telpon dari kekasihku. Kami menghabiskan waktu berjam-jam untuk hanya sekedar berbicara. Ia selalu menemaniku tidur. Di sela-sela telpon terkadang aku jatuh tertidur dan ia membiarkan hal itu terjadi. Ia akan mematikan telpon begitu ia tau bahwa aku sudah kembali tertidur pulas dalam tidur lelapku. Lalu keesokan harinya akan selalu seperti itu dan seperti itu lagi. Aku tidak pernah bosan berhubungan dengannya. Bagiku, itulah cara yang paling antik dan romantis untuk berpacaran.

Lalu kami harus melewati kelas 2 SMP dengan duduk dikelas yang berbeda. Saat itu, setiap istirahat, V.I akan dengan sangat rajin menghampiri kelasku. Kami akan berbicara dan sedikit curi-curi untuk berpegangan tangan saat waktu istirahat yang saat itu hanya berdurasi 15 menit.

***

June 30, 2012

Love, Pain & Revenge (Chapter 1)

One year before...

Aku mengerjapkan mata berkali-kali seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja di katakan oleh kedua orangtua angkatku. Mereka resmi memasukkan ku ke universitas swasta yang aku impi-impikan. Universitas Pelita Harapan bukan universitas yang murah. Banyak teman-temanku yang ingin mendaftaran diri disana tetapi biaya yang harus dikeluarkan sangat besar. Selain uang pangkalnya yang mahal, untuk mengambil jurusan disana tidaklah mudah. Aku sangat beruntung memiliki keluarga dan orangtua seperti mereka. Mama Ratna dan papa Wandy adalah om dan tante kandungku. Mereka menjadi orangtua angkatku sejak kedua orangtuaku meninggal karena kecelakaan mobil. Saat itu tante Ratna, adik dari ayah kandungku dinyatakan tidak dapat hamil karena mandul. Karena itulah begitu orangtua kandungku dinyatakan telah meninggal, mereka mengangkatku menjadi anak kandung mereka. Mama Ratna mirip sekali dengan ayahku. Umur mereka hanya berbeda satu tahun. Guratan wajahnya selalu mengingatkanku tentang ayah.

Aku adalah manusia yang paling beruntung. Walau aku tidak memiliki orangtua lagi, tetapi kedua orangtua angkatku selalu memanjakanku di saat aku memang butuh kasih sayang dari orangtua. Mereka mengangkatku sejak aku berusia delapan tahun, tepat saat aku naik ke kelas dua SD. Segala keperluanku selalu mereka penuhi. Aku di berikan kasih sayang yang melimpah. Satu hal yang paling ku saluti dari kedua orangtua angkatku, mereka mendidikku menjadi seorang anak yang disiplin. Aku tidak pernah ingin mengecewakan mereka. Dan saat ini kebahagiaanku semakin lengkap ketika mereka mempercayakanku untuk memperoleh pendidikan tinggi di universitas favorit yang memang sudah lama menjadi impianku. Satu hal yang tidak teduga adalah, aku telah lolos seleksi untuk menjadi mahasiswa disana. Dengan bantuan kedua orangtuaku yang mengirimkan hasil lukisanku ke universitas Pelita Harapan, aku resmi menjadi mahasiswi disana.

“Jadi Erica, apa yang kamu butuhkan untuk perlengkapan perkulihan sayang?” tanya papa.

“Mungkin Erica butuh peralatan lukis baru, tetapi itu nanti saja. Saat ini, Erica ingin menikmati liburan panjang dengan mama dan papa.”

“Liburan atau berkeliling ke Universitas baru?”

“Universitas!” Teriakku langsung bergairah. Tanpa banyak babibu aku langsung mencium kedua pipi orangtuaku dan berlari kedalam kamar untuk mengganti pakaian.

Aku resmi berkuliah di Universitas favoritku! Batinku bahagia.

***

June 26, 2012

Love, Pain & Revenge (Prolog)


Mataku memeriksa keadaan gelap di sekitar ku. Aku berdiri di tengah ruangan gelap untuk mencari sesosok yang sebenarnya sangat tidak ingin ku lihat. Tapi aku harus mencari tau apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka. Aku yang sebelumnya telah meletakkan seluruh hidupku dalam pangkuan hidupnya. Aku begitu takut kehilangannya sampai aku tidak pernah memberanikan diri untuk mencari tau apa yang sebenarnya terjadi di antara keduanya.

Ranita yang menyuruhku untuk memperjelas sendiri apa yang sebelumnya sering ia lihat dan dengar. Ranita yang setengah mati selalu meyakinkan ku bahwa ada sesuatu yang terjadi antara kekasihku dengan  partner bandnya. Hanya aku, yang masih sangat percaya dengan Edo, kekasihku. Hubunganku seharusnya tidak mudah retak karena kami sudah mengikat nya dengan sangat erat. Apakah aku harus percaya dengan apa yang dikarakan sahabatku? Atau aku harus tetap mempertahankan hubunganku dengan Edo?

Samar-samar aku mendengar suara dari balik ruangan. Pintunya tidak tertutup rapat sehingga aku dengan mudah mendengar apa yang sedang dibicarakan didalam. Aku menahan napas dalam-dalam. Menunggu suara yang dengan pelan namun tegas berbisik. Suara yang sudah sangat ku kenal. Suara yang suka mengelitik telingaku ketika ia membisikan kata-kata indah di telingaku-kini ku dengar kembali, walau bukan untukku.
“Sampai kapan aku harus menjalani sandiwara ini?”
“Kamu harus menunggu waktu yang tepat Sharah.”
“Tepat? Sampai kapan? Toh semua orang sudah tau. Hanya pacarmu saja yang bodoh.”
“Jangan sebut Erica seperti itu. Dia tidak bodoh!” suara itu membentak. Erica sempat terhentak sedikit mendengar bentakan itu, tetapi ia tetap membungkam mulutnya sendiri agar tidak mengeluarkan sedikitpun suara.
“Tidak bodoh? Lalu apa? Buta? Apa tuli untuk bisa melihat dan mendengar apa yang terjadi diantara kita? Kamu harus tanggung jawab! Aku tidak mau di duakan!”
“Kecilkan suaramu atau semua orang akan mendengar mu Sharah!”
“Aku benci seperti ini! kesannya seperti aku yang disalahkan. Aku yang menjadi penjahat dalam hubungan kalian! Aku yang membuat mu menjadi pria paling brengsek di dunia ini!” isak Sharah. Ia menangis. Aku bisa mendengarnya.
“Tidak. Jangan salahkan dirimu. Kamu tidak salah. Begitu pula dengan Erica.” Ucap Edo melembut. Erica tersenyum. Edo masih sayang padanya. Edo membelanya. Ranita salah persepsi tentang Edo.
“Ini anakmu Do. Anak kita dalam kandunganku.” Kata Sharah. Dan Erica terbangun dari mimpi terindahnya. Dunia seakan terbalik dan aku merasa pusing. Badanku oleng dan aku jatuh, terduduk dengan mengeluarkan suara benturan keras ketika badanku terhentak di lantai. Masih dalam keadaan duduk, aku menangis, terisak di balik telapak tanganku, dan aku mendengar suara Edo memanggil, tepat disebelahku.
***


March 4, 2012

Uri.. Chingu yeo :)

Pertama kali aku mengenalnya adalah saat aku masuk ke bangku perkuliahan. Ia seorang yang tidak banyak bicara, cantik tetapi jarang tersenyum dengan seseorang yang baru di kenalnya. Saat itu ia bahkan terkesan agak cuek dan galak. Tapi lalu kami saling berkenalan. Untuk pertama kalinya aku memiliki teman yang bisa aku percaya selama aku pindah ke Jakarta.

Ia seorang teman yang walaupun sudah tidak lagi berada di satu kelas denganku, tetap mau menyapa dan mencariku. Ia seorang yang sampai detik ini masih menyampaikan hal-hal yang tidak bisa ia ceritakan kepada orang lain, kepada ku. Teman yang mampu ku percayai selama aku berada di Jakarta.

Aurel Cuwanda.

Aku mengetahui sakitnya pertama kali saat kami berada di semester dua. Ia tidak gemuk, tetapi cukup berisi. Berambut panjang coklat yang akhirnya di cat hitam legam olehnya. Ia tidak banyak mengeluh kepadaku. Walau terpisah jarak kelas, kami sering berhubungan lewat kontak telpon. Tidak ada yang salah sampai saat ia mengatakan ia harus di operasi. Ia membuatku terkejut setengah mati saat ia tidak lagi mengendarai motornya seperti biasa, melainkan di antar oleh kakak perempuannya. Ia mengatakan kepadaku ia harus menjalani operasi usus buntu.


Saat itu karena keterbatasan daerah Jakarta yang ku ketahui, aku tidak mampu menjenguknya di rumah sakit. Aku hanya bisa berdoa untuknya. Untung ada Juan, kekasih Aurel yang hanya ku kenal lewat foto, setia menemani Aurel. Ia seorang pendiam yang tidak terkalahkan oleh siapapun, aku tak mampu menaklukkan Juan menjadi temanku.

Aurel banyak bercerita denganku. Setelah kesembuhan usus buntunya, ia tidak lagi takut makan apapun. Ia mengatakan sebelumnya bahwa perutnya bagian kanan sering sakit saat ia sedang berjalan, atau duduk. Terkadang ia merasa tidak lagi dapat menahan rasa sakit itu sampai harus berguling di kasur sambil menangis. Aku mengerti ia kesakitan.

Tidak lama setelah ia melakukan operasi usus buntu, Juan memutuskan dirinya. Hubungannya hampir beranjak empat tahun. Tidak ada lagi rasa sayang dalam diri Juan yang sangat tertutup. Juan sendiri mengaku membenci dirinya sendiri karena ia tidak lagi mampu menyayangi Aurel, setelah sekian lama rasa sayang itu di pupuk keduanya. Aurel akhirnya menerima keadaan itu walau aku tau ia sangat sakit dan terpukul.

Sekarang, setelah aku memasuki semester empat, lagi-lagi Aurel mengejutkan ku dengan sakit yang di alaminya. Kali ini aku jauh lebih takut. Jauh. Jauh. Jauh lebih cemas. Ia mengalami sakit kepala berkelanjutan. Sudah lama. Sejak semester tiga ia mulai merasakan sakit kepala yang tidak wajar. Aku masih sempat memarahinya karena ia terlalu stress saat mengalami ujian atau mendekati ujian. Memang aku juga mengalami hal yang sama, tetapi tidak pernah sampai seektrim dirinya. Ia begitu ketakutan saat ujian tengah semester maupun ujian akhir tiba. Berkali-kali aku menasehatinya tetapi sulit untuk merubah cara pikirnya yang ku rasa terlalu berlebihan.

Ia bercerita kepadaku tentang ketakutannya saat ia salah memilih penjurusan yang akan kami lakukan di semester lima nanti. Ia tidak ingin salah mengambil langkah, dan lagi-lagi ia menangis karena stress. Di balik kegalakan dan keras kepala yang ada pada dirinya, ia seorang yang rapuh. Ia butuh tempat untuk bercerita dan bersandar, dan bukan hanya sekedar sahabat. Ia butuh seseorang, yang tidak lagi bisa menemaninya.

Beberapa hari yang lalu, Aurel menghubungiku. Ia mengatakan dengan tegas, ia ingin meninggalkan bangku perkuliahan. Ia akan pergi ke Penang minggu depan karena sakit kepalanya makin bertambah parah dan tidak ada lagi obat yang mampu membuat rasa sakit itu hilang, walau hanya sekejap. Ia merasa kesakitan dan matanya mulai merabun. Ia merasa seperti ada kabut yang menutupi pandangannya. Ia bahkan tidak mampu pergi ke kampus. Ia tidak mampu berdiri terlalu lama, karena sakit kepala itu akan mengguncang dirinya dan ia akan jatuh.

Aku ketakutan. Ia temanku. Ia sahabat baikku yang mampu membuat diriku mampu beradaptasi dengan kota Jakarta. Ia mampu menjadi sahabat yang tidak bisa selalu bersama dengan ku di kota ini. Aku kehilangan sosok itu.

Aurel sempat melakukan pengobatan alternatif untuk membuat dirinya sembuh dari sakit kepala itu, dan ia di sarankan untuk melakukan operasi gigi. Tiga buah gigi harus ia cabut segera untuk dilihat, apakah sakit itu berasal dari saraf gigi. Tapi nihil. Yang ada hanyalah, Sakit di kepalanya menjadi lebih parah dua kali lipat.

Ia berkata, sudah tidak mau lagi menyulitkan kedua orangtuanya. Sakit yang ia alami membuat kedua orangtuanya harus meronggoh kocek yang tidak sedikit. Di awali dengan usus buntu yang menghabiskan belasan juta. Dan sekarang, ia bahkan harus di larikan ke Penang untuk melakukan pengobatan. Semua dokter yang ia temui tidak menemukan hal ganjil pada dirinya. Scan otak yang ia lakukan tidak menunjukkan adanya keganjalan. Ia normal, dan sehat.

Entah apa yang terjadi. Aku hanya mampu menerima kenyataan bahwa Aurel tidak lagi bisa menemaniku di bangku perkuliahan. Aurel sudah memutuskan, apapun hasil diagnosa yang keluar, ia akan berhenti kuliah. Ia tidak lagi mau menyusahkan kedua orangtuanya. Ia tidak lagi mau membiarkan kedua orangtuanya merasa terbeban karena harus membiayai kuliah yang tidak murah. Aku berusaha merubah cara pandangnya akan hal itu. Ia sudah setengah jalan. Ia tinggal maju kurang lebih satu setengah tahun lagi untuk mendapatkan gelar sarjana. Aku menolak hal itu mentah-mentah. Tapi ia mengatakan hal yang tidak bisa aku bantah.

“Gelar bisa di beli. Gelar tidak lagi menjamin bahwa kamu atau aku, akan mendapatkan pekerjaan yang pantas dan layak. Dan aku tidak bisa membiarkan diriku bertambah sakit hanya demi mencari gelar tersebut. Aku memang sangat menyayangkan diriku harus berhenti, tapi kamu tidak tau rasanya. Maaf. Mungkin ini terlampau kasar, tapi kamu tidak merasakannya. Kamu hanya tau bahwa aku sakit, tidak lebih. Tapi aku yang merasakan sakit itu. Aku hanya berharap, dua tahun kedepan, saat aku mengetahui teman-temanku lulus dan mempunyai gelar, aku juga sudah sukses dengan usaha dan pekerjaan yang ku miliki.”

Aku hanya bisa meneteskan air mataku. Walau mungkin hanya dua tahun pertemanan kami, aku sangat mempercayainya. Ia sosok yang mampu menasehati dan memberi masukan kepada ku. Ia orang yang bisa membagikan segala sesuatunya kepadaku. Ia baik. Ia menjengukku walau setelah aku keluar dari rumah sakit kemarin. Ia membawakan minuman kesehatan untukku dan meminta maaf karena tidak bisa datang menjengukku.
Dan aku, akan kehilangan sosok itu.

Kami sama-sama berjanji bahwa mundurnya ia dari bangku perkuliahan tidak akan menghilangkan persahabatan yang kita jalin selama dua tahun kami saling mengenal. Ia dan aku masih bisa berbagi segala macam cerita dan keluh kesah yang kita alami bersama. Ada pertemuan juga ada perpisahan. Mungkin itu yang harus selalu ku ingat. Tapi Aurel Cuwanda, tetap sahabat baikku.

Dear Cuwa,
Cepat sembuh teman. Aku pasti akan sangat merindukanmu. Merindukan betapa kita sama-sama tidak menyukai dosen atau mata kuliah yang di berikan. Rindu akan cerita-cerita gila saat kita di paksa untuk membuat sesuatu yang tidak kita suka. Presentasi dan berbagai macam kerjaan kuliah yang bisa di jadikan bahan pembicaraan.
Kamu mengalami kesakitan yang mungkin dengan keluarga sendiri tidak mampu kamu bagikan. Aku mengerti semua keadaanmu. Aku mengerti bahwa dengan berhentinya dirimu dari bangku perkuliahan adalah keputusan yang paling baik yang bisa kamu ambil saat ini. Semoga hasil pemeriksaan di luar negeri tidak membuatmu harus menginap lama di sana. Semoga kamu dapat kembali ke Indonesia dengan cepat dan sehat, sesehat-sehatnya. Semoga tidak ada hal yang membahayakan, dan sepulangnya kamu nanti dari sana, kamu bisa melanjutkan aktivitas keseharianmu dengan baik.
Lekas sembuh kawan. Aku menunggu kabar baik darimu.

Dari,
Sahabat yang sangat mencemaskan dirimu

January 21, 2012

Memories Of Love 7 (Fiction Version)

Clara tersenyum saat salah satu temannya bernama Darren duduk dekat dengannya. Darren mati-matian bertanya kepada Clara tentang gadis bernama Esther yang sudah satu semester bersama satu kelas dengan Clara. Darren begitu tergila-gila dengan Esther yang berperawakan cantik namun pendiam dan dingin. Esther tinggi dan putih. Rambutnya panjang dan selalu dibiarkan terurai cantik kebawah. Darren juga berperawakan tinggi, putih dan ganteng. Tetapi sayang, karena sifatnya yang selengean, membuat Esther tidak bisa jatuh hati padanya. Darren begitu takut untuk mendekati Esther, jadi Clara yang selalu menjadi sasaran.
Esther sendiri bercerita bahwa ia sedang menunggu seseorang yang jauh di luar sana.

Malam itu, tiba-tiba Esther mencari Clara. Ia mengatakan, tepat tanggal dua puluh lima natal kemarin, laki-laki yang tidak di ketahui Clara namanya, meminta Esther untuk menjadi kekasihnya. Tetapi kegalauan mulai di hadapi Esther. Dengan keadaan yang cukup jauh dari menyenangkan, Esther tidak sanggup berpacaran jarak jauh. Ia mengatakan bahwa ia tidak mampu hanya berkata sayang lewat dunia maya dan menggalau setiap hari menunggu laki-laki itu kembali ke Indonesia. Selain itu juga Esther mulai takut kehilangan sahabat lamanya yang sangat ia sukai ini.

Entah darimana akhirnya Darren mengetahui situasi ini. Ia menjadi lebih galau dari Esther. Clara tergelitik hatinya saat mengetahui masih ada kisah cinta yang begitu lucu dan menggelikan sampai saat ini. Darren yang begitu selengean mampu jatuh hati pada seseorang yang bisa di bilang dingin tersebut. Lucu memang. Lalu Darren merasa dirinya gagal mendapatkan Esther, ia mulai berpindah hati kepada gadis lain yang kebetulan juga dekat dengan Clara.

Norra adalah gadis cantik yang pendek dan lemah gemulai. Bertolak belakang dengan sifat Esther, Norra sangat memperhatikan penampilan. Ia sangat mencintai rambut terutama poninya. Ia bisa kesal sendiri bila poninya rusak tertiup angin. Karena itu Clara sering menyebutnya si poni. Diam-diam, Darren yang memiliki hobby photography, suka sekali memotret Norra diam-diam. Tetapi tetap saja seperti sebelumnya, Darren hanya berani melakukannya diam-diam dan semuanya ia ceritakan hanya pada Clara. Entahlah. Clara sendiri tidak yakin kali ini Darren juga bisa mendapatkan Norra. Gadis itu lebih pemilih dari yang terlihat di depannya. Jelas Clara tau hal ini karena keduanya dekat dan sesekali Clara bisa bertanya hal-hal yang berkaitan dengan cinta kepada Norra. Tetapi jawabannya hanya satu, ia sampai sekarang belum ingin berpacaran. Clara bingung, sebenarnya apa yang di tunggu Norra. Entahlah. Berkali-kali cinta di rasakan oleh Clara begitu aneh dan berbeda. Masing-masing karakter yang berbeda, mau tak mau membuat Clara tertawa geli dalam hati.

Dear Darren,
Teman ku yang selengean, kau begitu berani tetapi tidak untuk soal bernama cinta. Kau mampu menyukai tetapi tidak mampu memperlihatkan hal itu di depan umum. Kapan kau baru bisa menarik perhatian para wanita kalau hal itu tidak pernah kau tunjukkan? Berani mengambil keputusan adalah hal terbaik dalam hal percintaan, tetapi jangan pernah lakukan itu kalau memang kau tidak sungguh-sungguh menyukainya. Jangan kau lakukan hal itu kalau memang kau tidak siap dengan sifat-sifat wanita yang akan kau kencani. Berani dalam menunjukkan perasaan mu juga hal yang baik. Kamu bisa mendekatinya pelan-pelan sebelum kau curi hati mereka.
Lakukan yang terbaik teman. Mungkin kali ini, kau bisa sedikit lebih dewasa dan tidak lagi bersembunyi di belakang saat ingin mendekati mereka? :)

Temanmu yang tidak pernah berhenti menertawakan kelakuanmu,
Clara

December 27, 2011

Memories Of Love 6 (Fiction Version)

Clara menatap Yehan. Hari itu adalah hari pertemuannya pertama kali dengan Yehan setelah beberapa tahun mereka tidak pernah bertemu. Clara sangat merindukan Yehan. Bukan karena ia kembali jatuh cinta pada Yehan, tidak. Tapi ia sangat merindukan kehadiran Yehan yang dulu sempat menjadi tempat perlindungan paling baik yang pernah Clara temui. Ia rindu akan perteman mereka yang harus hancur karena Yehan jatuh cinta pada Clara. Cinta yang seharusnya tidak pernah boleh terjadi pada keduanya yang mengakibatkan kehancuran fatal dan penyesalan berat yang dirasakan Clara. Cinta yang harus di telan sendiri karena Clara tidak mampu menerimanya.

Tiba-tiba Clara di pertemukan kembali dengan Yehan. Laki-laki yang sudah berada jauh dari Clara, baik tempat maupun waktu - hari itu, duduk di depan Clara. Mereka berhadapan sambil menyantap makanan yang tidak lagi mengeluarkan selera bagi Clara. Saat itu hati Clara tegang. Teman yang pernah lebih dari sepuluh tahun bersama dengannya, kembali lagi seperti orang lain yang baru berkenalan.
Masihkah Yehan membencinya? Masihkah ada di benak Yehan tentang apa yang pernah terjadi pada mereka dulu? Apa Yehan sudah benar-benar lupa akan kejadian itu? Yehan tumbuh dengan sangat baik dan terlihat sangat dewasa. Hampir tiga tahun mereka tidak pernah berbicara, malam itu Clara membuka mulut untuk menyapa sahabat nya yang dulu.

Clara ingin sekali meminta maaf pada Yehan. Meminta maaf secara langsung akan apa yang pernah ia lakukan dulu pada Yehan. Ia ingin Yehan kembali menjadi seseorang yang dulu Clara kenal. Yang baik dan sangat pengertian pada Clara. Tetapi malam itu, mereka hanya bungkam. Tidak ada yang berbicara tentang masa lalu yang kelam itu. Keduanya hanya sama-sama menelan semua kepahitan yang pernah di rasakan.

Dear Yehan,
Pertemanan ku dengan mu sudah ku anggap seperti persahabatan seumur hidupku.
Kau harus tau bahwa aku sangat merindukan pertemanan kita dulu. Nostalgia demi nostalgia ku lalui dengan Elya dengan berbagai kesedihan di dalam hatiku. Elya banyak bercerita tentangmu. Aku juga ingin berbagi semua suka dukamu di luar sana. Kembali bercerita denganmu tentang kuliahmu yang harus berpindah-pindah dan kesulitanmu untuk mencari kontrakan baru,dan semua kebahagianmu di sana.
Apakah itu masih mungkin terjadi di antara kita? Aku telah melakukan kesalahan fatal yang tidak akan pernah bisa ku hapuskan dari memorimu.
Aku mengira kau tidak akan semarah itu padaku dan hal itu tidak merubah semuanya, tapi aku salah. Hal itu membuat kau dan aku malah seperti tidak saling mengenal satu sama lain. Kau dan aku tidak lagi mampu melewati hari bersama sebagai seorang sahabat yang sangat mengerti diriku.
Kenapa Yehan? Kenapa dengan satu kata cinta yang kau ucapkan kepadaku, malah membuat kau dan aku seperti orang asing? Kenapa harus ada kata cinta di antara kita? Bisakah kita menghilangkan memori itu? Memori dimana aku harus kehilangan teman sekaligus sahabat laki-laki yang sangat mengerti diriku?

Temanmu yang sangat menyesal,
Clara

December 20, 2011

Memories Of Love 5 (Fiction Version)

Rasa bahagia menyelimuti hati Clara hari itu. Ia mengambil pena berwarna merah miliknya, dan membuat gambar kecil berbentuk hati di tengah-tengah tanggal bertuliskan angka dua puluh lima. Tepat pada tanggal dua puluh lima bulan ini, Cleo meminta Clara untuk menjadi kekasihnya. Clara bahagia karena tidak terasa sudah dua tahun ia menghadapi rintangan bersama dengan Cleo. Clara tau, secuek apapun Cleo padanya, Cleo tetap menyayanginya. Dua tahun itu tidak terasa bagi Clara. Sudah dua tahun ia menghabiskan hampir seluruh kehidupannya dengan Cleo. Kebersamaan mereka, kedekatan mereka, sampai terkadang masalah keuangan tidak lagi di hiraukan keduanya. Bagi Clara dan Cleo, kebersamaan saat makan, atau saat keduanya tidak berkuliah, harus di lalui bersama.

Ketergantungan kah Clara pada Cleo? Atau sebaliknya? Pernah beberapa kali Clara harus menghabiskan makan siangnya sendirian karena Cleo pergi dan tidak bisa menemani Clara. Seperti ada yang kurang saat Cleo tidak bisa menemani Clara, padahal toh mereka akan bertemu lagi. Begitu juga yang di rasakan Cleo saat Clara tidak bisa menemaninya. Clara sendiri tidak tau bagaimana bila suatu saat mereka tidak lagi bersama. Bayangan itu cepat-cepat di tepis olehnya.
Saat ini hanya kebahagiaan yang ingin di rasakan Clara. Baginya, kebersamaan dengan Cleo akan selalu menjadi waktu dan moment yang paling special dalam hidupnya. Tanpa di sadari mungkin Clara sendiri sudah meletakkan seluruh hatinya kepada Cleo. Hanya kepadanya. Clara tidak menyukai laki-laki yang terlalu perhatian kepadanya, itu hanya akan menjadi suatu kekangan bagi Clara. Ia sangat menyukai laki-laki cuek yang bisa memberikan perhatiannya di saat-saat yang tidak terduga, dan itu ia temui hanya dalam diri Cleo.

Clara berharap, semoga semua berjalan indah dan terus bertambah indah. Tidak ada yang berubah sampai kapanpun. Setiap hal yang sudah dilalui akan menjadi kenangan berharga untuk dirinya dan ia yakin, Cleo akan merasakan hal yang sama seperti yang di rasakan Clara saat ini.

Dear Cleo,
Terima kasih telah menjadi pendampingku selama dua tahun kita bersama. Tidak ada yang bisa di ucapkan selain kata bahagia yang ku temukan di setiap sudut waktu yang kita lewati bersama. Jangan sampai hal lain membuat semua keindahan ini berubah. Setiap sedih dan bahagia ku akan ku bagikan kepadamu dan kamu juga harus melakukan hal yang sama untuk ku. Berbagi dan kepercayaan adalah kunci dari cinta yang telah kita pupuk selama ini, dan ingat, jangan pernah berubah sampai apapun. Happy Anniversary sayang. Akan ku buatkan kue coklat kesukaanmu sepulang nanti.
Surat cintaku kepadamu, Clara

Time Heals Everyhing, is it?

Membayangkan setiap orang keluar masuk membaca tulisanku, rasanya aku hampir gila menanggapi semua pertanyaan yang di ajukan. Aku yakin, setiap pertanyaan akan mengarah kepada hal yang sama seperti, “Kamu masih memikirkannya?”, “Kamu masih kecewa terhadapnya?” dan sebagainya.

Kecewa? Aku bukan orang yang mudah untuk menghilangkan rasa kecewa karena di hianati. Jawabannya? Kekecewaan itu pasti masih ada sampai sekarang. Aku bukan tipe orang yang menganggap hal itu berlalu lama, lalu aku bisa berhenti memikirkannya. Beda dengan masalah yang aku hadapi dengan orang-orang lain yang dulu sempat dekat denganku, lalu kami berjauhan. Aku tidak merasa di hianati apalagi di sakiti. Sekarang malah aku menganggap itu kesalahan bodoh yang pernah aku lakukan saat aku memutuskan untuk menjauh dari mereka.

Baca saja. Nikmati setiap kata yang pernah aku tuliskan di dalamnya. Aku tidak akan memikirkan apa yang terjadi di masa lalu lagi, aku tidak berniat untuk melakukannya. Tapi rasa sedih itu pasti ada. Tidak akan ada yang benar-benar merasakan karena aku korbannya. Nikmati setiap ucapan yang pernah singgah di mulut kalian yang berhasil aku tangkap dan aku abadikan dalam bentuk tulisan. Tidak semuanya kenyataan, sebagian hanya merupakan karangan. Terkadang saat membaca juga kita perlu memerhatikan judul yang di berikan, karena kebanyakan judul terikat kuat dengan isi di dalam cerita yang dibuat. Dan yang perlu di ketahui, aku tidak lagi mendendam kepada semua pihak yang pernah terkait di dalamnya.

December 17, 2011

Happy Birthday

Bertambahnya umur membuat seseorang pasti merasa senang dan bahagia. Anak-anak kecil yang bertambah umur satu menjadi dua, dua menjadi tiga, seakan-akan merasa bahwa inilah kehidupan yang sebenarnya. Dimana setiap mimpi dan harapan akan menjadi sebuah kenyataan. Dimana setiap cita-cita dan keinginan akan semakin terwujud dengan adanya perubahan waktu dan tahun. Cinta anak kecil berumur tiga tahun kepada orangtua akan berubah menjadi cinta kepada teman. Cinta anak berumur enam tahun akan berubah menjadi cinta kepada sahabat kecil mereka. Cinta anak umur belasan tahun akan berubah menjadi cinta monyet. Cinta monyet lalu beranjak menjadi cinta yang yang menggebu-gebu yang ingin dirasakan oleh anak berumur tujuh belas tahun ke atas. Cinta yang sebenarnya adalah cinta yang akan di hadapi sepasang pria dan wanita yang ingin merajut cintanya menjadi sebuah cinta yang tidak pernah mati di telan waktu lewat jenjang pernikahan.

Saat ini, tahun ini ... aku berada di tahun-tahun dimana aku ingin merasakan cinta yang menggebu-gebu yang dapat menjadi topik pembicaraan hangat saat kita membicarakannya kepada teman-teman kita. Cinta yang terkadang tidak berjalan dengan mulus dan bahkan hancur berantakan. Cinta yang harus di telan sendiri karena pasangan yang di impikan telah menjadi pasangan orang lain. Cinta yang di anggap sejati tetapi malah mati di tengah jalan. Di umur ini, kita menjadi seorang labil yang selalu mencari. Mencari dimana pasangan hati yang sebenarnya yang akan menjadi pasangan kita sampai mati. Pada tahap ini adalah tahap dimana kita harus benar-benar memilih dan memutuskan pasangan terbaik kita karena jenjang ini adalah jenjang terakhir sebelum kita hidup selama-lamanya dengan cinta mati kita.

Selamat ulang tahun teman. Hadapi semua rintangan yang membentang di depanmu dengan satu motivasi baru. Beranggaplah bahwa rintangan di depan merupakan alat untuk mencapai cita-citamu. Raihlah mimpimu dengan segenap hatimu dan jalani hari-harimu dengan senyum yang membahagiakan semua orang yang ingin melihat kebahagianmu. Semoga hari-hari yang kamu jalani selalu menjadi hari bahagia untukmu, aku berdoa untukmu.

December 3, 2011

The Reality

Aku menuliskan hampir seluruh kenyataan yang terjadi dalam hidupku. Kejadian menarik sampai yang paling menyedihkan, ku bagikan dalam tulisan yang membentuk sebuah kenangan pada akhirnya. Dengan seluruh kenyataan yang ada, dengan seluruh kemampuan yang di miliki, aku akhirnya berdiri dan berusaha untuk tidak lagi melihat ke belakang. Di lupakan? Tidak. Bukan. Hanya berusaha untuk tidak mengingat. Tetapi yang di herankan adalah, setiap aku tidak lagi memikirkan masa lalu, setidaknya lupa sesaat akan masa lalu itu, mereka tiba-tiba datang dan muncul di alam bawah sadar ku. Mereka seakan tau kalau mereka terlupakan. Ingatan itu lantas tidak pernah hilang. Muncul kembali dan keesokan paginya, setelah aku benar-benar terbangun dari tidurku, aku lalu mulai memikirkannya lagi. Selalu seperti itu. Lalu harus bagaimana aku ini? Melupakan? Jelas tidak mungkin. Di Ingat? Aku bisa gila kalau terus-terusan memacu otakku melihat masa lalu yang lebih banyak screen menyedihkan nya, di bandingkan bahagianya. Walau rasanya sudah berabad-abad rasa sakit dan sedih itu terjadi, tetap saja setiap kali mengingatnya, rasanya hati ini ingin meledak karena sakit itu... masih terasa.
Menjaga hubungan baik berhasil aku lakukan. Tetapi bukan berarti kami menjadi teman dekat satu sama lain. Hanya beranggapan bahwa, sesuatu “yang dulu” pernah terjadi itu “tidak pernah” terjadi sebelumnya. Seperti teman biasa. Benarkah seperti tu? Apa seharusnya kami saling bermusuhan dan tidak tegur sapa satu sama lain? Karena toh dua-duanya akan sama-sama menyakitkan.
Sudah lama pula tulisan ini aku abaikan. Berusaha memikirkan apa yang akan di lanjutkan dalam tulisan ini. Tidak pernah menemukan jalan terbaik. Ya memang seharusnya seperti ini. Kami bisa berbicara kapan saja seperti tidak terjadi apa-apa, aku sesekali memikirkan hal dulu dan saat alam bawah sadarku kembali mengingatkan ku pada kenyataan pahit, ya sebaiknya seperti ini saja, tidak berusaha melupakan dan yang terpenting tidak terjebak dalam memory lama yang menyebabkan kesedihan itu berlarut. Mencoba tidak mengingat dan memikirkan nya. Hanya seperti itu kan?

November 29, 2011

Catatan Usang (2)

Tersenyum sendiri membayangkan hal-hal lalu yang pernah terjadi. Keinginan untuk membalikkan waktu dan menghentikannya untuk sejenak agar aku mampu mengenang hal-hal yang aku rindukan. Indah tapi pasti ada yang menyakitkan. Tidak. Sampai kapanpun, bagaimanapun... Itu tidak akan pernah berubah. Sakit yang pernah di rasakan, indahnya saat kita akhirnya bisa memaafkan, cinta yang pernah di berikan.. semuanya tidak akan mampu hilang begitu saja. Hanya saja.. suatu saat nanti saat aku kembali membayangkannya, hal-hal tersebut tidak akan lagi memberikan efek besar dalam hidupku.. hal itu hanya akan menjadi kenangan yang pernah singgah dalam hidupku.

***

Diam-diam sekarang aku sering menatapnya. Rasanya ada sesuatu yang berbeda yang tidak pernah ku temui sebelumnya. Aku mengenalnya sudah lama. Tapi hanya sekedar mengenal. Tidak bisa di katakan dekat karena ada jarak yang memisahkan kami. Aku takut. Aku tidak mau jatuh hati padanya. Tidak boleh di saat ia masih memiliki seseorang. Dan aku hanya akan mengganggu hubungannya.

***

Ingin berlaku biasa saja tetapi kadang hati dan pikiran tidak bisa berlaku seperti yang kita inginkan. Aku kecewa. Kecewa pada diriku sendiri, karena hanya dalam beberapa hari saja, aku mampu jatuh hati padanya. Begitu gampangnya kah diriku untuk jatuh hati kepada orang lain? Atau karena begitu sensitifnya kah diriku, sampai-sampai kedekatanku dengan seseorang malah ku salah artikan?

***

Aku menemukan sosok baru tempat aku kini bersinggah. Tempat kapalku akhirnya bersandar, berhenti dan berlabuh di satu pesisir pantai yang walaupun masih terlihat baru, namun menyegarkan hati.
Aku berharap, untuk waktu yang lama, aku bisa melabuhkan kapalku di sana, merasakan keindahan dan cintamu, seperti aku yang mulai mencintaimu.
Terima kasih karena telah memberiku tempat di hatimu. Menggeser isi yang pernah ada. Melepas kapal yang pernah bersinggah di hatimu dulu, dan mengisinya dengan kapalku yang rapuh, yang aku yakini, aku akan merasa nyaman di dalamnya.

***

Catatan Usang (1)

Merindukannya, bagiku seperti hal yang tidak lazim untuk di rasakan. Menahan perasaan untuk tidak menginginkannya, bukanlah hal yang mudah. Di saat aku bisa menatapnya, dia seolah berada sangat jauh dari pandanganku. Di kala aku merasa bisa menggapainya, dia malah tidak dapat ku capai.
Dia begitu dekat.. dia tidak pernah lepas dari mata dan hatiku, tetapi kenapa sulit sekali berada di dekatnya? Seperti dua magnet yang sama kutub. Yang kalau di dekatkan, tidak akan pernah bisa bersatu.

***

Rupanya, tanpa dia, aku masih bisa tertawa setiap harinya... masih bisa merasakan air, udara, dan nafas tanpa takut kekesakan meliputi diriku..
Rupanya, tanpa dia, hidupku terasa jauh lebih normal walaupun kadang-kadang masih sering terselip kenangan di dalam hidupku. Rupanya kesedihanku yang tiada tara sudah di jawab oleh-Nya. Ia menyuruhku untuk tidak lagi merasa resah dan sedih.
Rupanya masih banuak relung hati yang hancur karena CINTA. Masih banyak keputusasaan yang terjadi bukan hanya padaku.
Intinya... sampai sekarang, detik ini, saat ini.. kau masih bisa melihatku hidup, ceria, dan menjalani seluruh sisa waktuku dengan baik.

***

Betapa bahagianya menatapmu begitu bahagia di hari ulang tahunmu. Aku senang melihat senyummu yang terlihat berbeda hari ini. Tadi juga sekilas aku memegang tanganmu. Sekilas.. tapi hatiku tidak henti-hentinya berdebar sampai sekarang.
Ya Tuhan.. mengapa pengaruh dia dalam diriku masih begitu besar? Kenapa hanya dengan masalah sepele seperti menggenggam tangannya, bisa menarikku kembali ke ingatanku hari ini bahwa ia telah melepaskanku?

***

Tersenyum sendiri membayangkan hal-hal lalu yang pernah terjadi. Keinginan untuk membalikkan waktu dan menghentikannya untuk sejenak agar aku mampu mengenang hal-hal yang aku rindukan. Indah tapi pasti ada yang menyakitkan. Tidak. Sampai kapanpun, bagaimanapun... Itu tidak akan pernah berubah. Sakit yang pernah di rasakan, indahnya saat kita akhirnya bisa memaafkan, cinta yang pernah di berikan.. semuanya tidak akan mampu hilang begitu saja. Hanya saja.. suatu saat nanti saat aku kembali membayangkannya, hal-hal tersebut tidak akan lagi memberikan efek besar dalam hidupku.. hal itu hanya akan menjadi kenangan yang pernah singgah dalam hidupku.

***

September 25, 2011

Memories Of Love 4 (Fiction Version)

Satu hal.. Satu hal yang baru saja terungkapkan dari seseorang yang dulu pernah singgah di hati Clara.
Satu hal yang tidak mungkin Clara lupakan karena adanya suatu kesaksian yang tidak pernah di ungkapkan oleh seseorang itu sebelumnya.
Satu hal yang membuat Clara terdiam.. kaget.. dan tidak percaya akan penglihatannya saat ia membaca tulisan seseorang tersebut.
Satu hal yang sempat terlupakan..
Trefio. Seseorang yang jauh.. berbeda.. yang awalnya sama sekali tidak di kenal Clara. Seseorang yang berhasil dekat dengan Clara lewat dunia maya. Dunia tulisan. Bukan tatap muka. Seseorang yang kesepian, yang membutuhkan teman. Butuh seseorang lainnya. Seseorang yang ingin menjadikan Clara sosok yang dekat dengannya.
Malam itu.. akhirnya ia membuka suara. Membeberkan semua yang dulu tidak sempat terungkap.
Trefio dekat dengan gadis lain sebelum dan sesudah mengenal Clara. Gadis yang menurut Clara sampai kapanpun tidak akan bisa di singkirkan dari kehidupan Trefio. Gadis yang jauh... jauh.. jauh lebih berharga di mata Trefio di bandingkan dengan Clara. Gadis yang cantik.. Lembut.. dan sangat beruntung mendapatkan Trefio. Riesya.
Clara bertemu dengan Trefio di tahun kedua saat mereka duduk di bangku sekolah. Clara yang memang ingin mencari teman sebanyak-banyak nya berusaha untuk mendekati Trefio yang sangat.. angkuh dan pendiam.
Clara menyadari dan mengakui karena keagresifannya lah ia dapat berhubungan dengan Trefio. Walaupun hanya lewat dunia maya. Walau begitu, Clara larut di dalamnya dalam tahun-tahun nya berada di tahun kedua bersekolah.
Trefio mencari Clara malam itu. Malam dimana keduanya terpisahkan oleh jarak yang begitu jauh. Mereka bercerita sampai hampir larut malam.
Kejujuran baru yang di buat oleh Trefio saat ia mengatakan... “Kamu tau kenapa aku memilih Riesya dan berhubungan dengannya? Because of You in relationship with Cleo. I Think i lost you. If there a chance I don't wanna lose another one. That's why..”
That’s why.. Trefior choose Riesya. Batin Clara. Dua bulan setelah Cleo dan Clara berhubungan... Trefio memilih untuk berhubungan pula dengan Riesya.

Dear Trefio,
Terima kasih untuk semua kejujuran yang baru sempat terungkapkan. Terima kasih atas pengakuan indah yang telah di nyatakan. Terima kasih karena akhirnya, walau terpisahkan oleh jarak dan waktu, masih ada komunikasi di antara kita. Terima kasih untuk kesediannya dalam menemaniku berbagi cerita dan kesulitan yang pernah ku hadapi.
Kau sahabat ku.. sahabat terbaikku Trefio..

Temanmu,
Clara

July 1, 2011

Memories Of Love 3 (Fiction Version)

Verlyta menatap dirinya di cermin. Setelah yakin bahwa dirinya sempurna, ia beranjak keluar rumahnya. Di depan, Evelyn bersama Rian telah menunggunya. Ia mengenakan kaos berwarna putih gading di padukan dengan celana pendek hitam kesukaannya. Ia tersenyum percaya diri dengan rambut panjang sepunggungnya yang berkibar lembut di tiup angin. Walaupun Evelyn sahabat karibnya dan Rian, ia tidak suka melihat keduanya bersama. Ia ingin memiliki Rian seorang dan ia tidak ingin Rian dekat dengan orang lain saat ia sedang bersama dengan Rian. Setelah menyapa keduanya, tanpa basa basi Verlyta masuk ke mobil Rian dan duduk di depan, kursi penumpang sebelah Rian. Evelyn sadar akan posisinya dan duduk di belakang. Perjalanan panjang karena sebenarnya Rian mau mengantar Evelyn pulang dan mengajak Verlyta jalan-jalan. Perjalanan pulang Evelyn terasa kurang nyaman karena sepertinya Verlyta tidak malu untuk memperlihatkan kemesrahan hubungannya dengan Rian. Evelyn berusaha untuk tidak memperhatikan penumpang di depannya walaupun itu berarti ia harus memalingkan kepalanya ke jendela luar agar tidak mengganggu kemesrahan Verlyta dan Rian. Sedikit curi-curi pandang sebenarnya Evelyn melihat bahwa Rian agak risih karena Verlyta mulai bergelanyutan di lengan Rian dalam keadaan Rian sedang menyetir! Bagaimana kalau Rian jadi tidak berkonsentrasi dan akhirnya malah terjadi kecelakaan mobil? Ingin rasanya saat itu Evelyn menegur tindakan Verlyta, tapi apa daya. Ia hanya seorang tamu yang minta di antar pulang oleh Rian. Evelyn hanya bisa pasrah dan berdoa di dalam hati.

***

Verlyta tidak bermaksud menyakiti Evelyn. Ia hanya sedikit pencemburu. Ia tidak ingin Rian di rebut oleh siapa pun dan ia yakin semua perempuan manapun pasti ingin selalu bersama kekasihnya, di tambah lagi dengan sikap cuek Rian yang sulit untuk di tanggulangi. Tatkala itu sebenarnya Verlyta sering menangis karena sikap Rian yang cuek. Terkadang tidak semua yang di inginkannya mampu dikatakannya kepada Rian. Ingin sekali ia meneriakkan semua yang ada di dalam hatinya agar Rian tau seberapa besar rasa sayang dan cinta yang di milikinya untuk Rian. Ia selalu berusaha menjadi yang terbaik untuk Rian, dan tidak banyak menuntut apapun dari Rian. Tidak pernah menuntut untuk menonton film apapun saat bersama dengan Rian, selalu membiarkan Rian yang memilih film yang sedang tayang di studio, daripada harus melihat Rian kecewa karena pilihan filmnya tidak sesuai dengan apa yang ingin di saksikan oleh Rian. Ia akan merasa senang sekali bila Rian mau berbagi cerita dengan nya saat selesai menonton film, dan keduanya saling membahas film yang baru saja mereka tonton. Itu hal yang tidak pernah bisa di lepaskan dari dalam diri Rian, karena hanya saat itulah Rian akan menunjukkan kebawelannya di depan Verlyta.
Ia mencintai Rian. Ia sayang dan tidak ingin melepaskan Rian. Ia bahagia bersama Rian.

***
Rian tau seberapa besar rasa sayang yang di miliki Verlyta. Ia tau bahwa sikapnya yang terlampau cuek dapat melukai hati wanita manapun yang mencintai dirinya. Tetapi ia tidak mampu mengutarakan sifat keromantisannya. Ia bukan tipikal laki-laki yang mampu mengumbar rasa cintanya dihadapan perempuan. Ia hanya ingin siapapun kekasihnya, mampu menerima dirinya apa adanya, yang cuek, tidak peduli dan sulit untuk melontarkan keromantisan serta kepeduliannya di depan kekasihnya. Dan semua itu, semua kekurangannya, semua kebiasaannya, hanya mampu di terima oleh Verlyta. Bahkan terkadang ia ingin bertanya kepada Verlyta, apakah ia bahagia bersama dengan dirinya yang terlampau cuek. Apakah Verlyta tidak pernah bosan seperti perempuan lain yang banyak menuntut? Apakah sudah benar ia memperlakukan Verlyta dengan baik?
Verlyta tidak sama dengan Clara. Keduanya menyukai laki-laki yang sama. Keduanya memiliki tipikal karakter yang bertolak belakang. Clara ingin selalu di temani. Verlyta justru sangat mengerti posisi Rian yang sibuk. Clara terkadang menuntut keromantisan di dalam hubungan mereka, tetapi Verlyta lebih banyak diam dan terlihat selalu bahagia bersama dengan dirinya. Dua karakter yang saling bertolak belakang pernah berada di dalam hatinya. Pernah ia cintai. Sama-sama hampir tiga tahun berhubungan, walaupun saat bersama dengan Clara, hubungan mereka kandas dengan tidak baik. Dengan Verlyta berbeda. Keduanya memutuskan hubungan karena Verlyta masih tidak mampu menerima hubungan jarak jauh. Ia memilih untuk mundur daripada harus banyak sakit hati saat hubungan mereka berada dalam posisi long distance. Kepercayaan harus selalu di pupuk dengan baik dalam hubungan jarak jauh. Dan ia mengerti. Dengan keadaan sifat cuek di dalam dirinya, ia tau bahwa sebenarnya Verlyta takut. Dan ia memilih untuk melepaskan Verlyta, walau itu berarti ia harus melepaskan cintanya.
Sampai saat ini, ia masih memiliki rasa itu terhadap Verlyta. Rasa yang di sebut sebagai rasa sayang itu belum sepenuhnya dapat di lepaskan oleh hatinya.
Dan saat ini, Rian memilih untuk bebas. Tidak memiliki ikatan dengan siapapun, dan mampu mengkreasikan dirinya dalam berbagai macam aktifitas tanpa perlu takut tidak dapat membagi waktu dengan kekasihnya.

***

June 30, 2011

Memories Of Love 2 (Fiction Version)

Clara menatap jam dindingnya pagi itu. Sudah pukul 9 pagi dan tidak ada inisiatif dalam dirinya untuk bangun dari tempat tidurnya. Mimpi itu.. beberapa malam ini memang sempat mengganggu malamnya. Mimpi yang aneh, membingungkan sekaligus menoreh luka lama. Bukan luka sebenarnya, karena Clara sudah melupakan luka itu dan menggantikannya dengan sebuah pelajaran dan pengalaman yang berarti. Orang itu kembali menghampiri tidurnya, hampir tiga malam belakangan ini. Senang atau tidak? Karena yang di impikannya hanya sebuah ilusi tentang kebahagian masa lalu keduanya. Rian bolak-balik masuk ke dalam mimpinya. Entah karena begitu inginkah Clara bertemu dengan Rian, atau malah Rian lah yang merindukan Clara? Beberapa orang pernah mengatakan kepada Clara, bahwa ketika kita memimpikan seseorang yang tidak pernah di pikirkan, maka sebenarnya orang yang berada di dalam mimpi itulah yang merindukan dirinya. Tetapi benarkah dugaan Clara bahwa memang di dalam hati kecilnya sekalipun, ia berhenti memikirkan Rian? Terkadang Clara sendiri tidak tau apa yang berada di dalam hati kecilnya. Tetapi hampir 90% dirinya yakin, bahwa ia tidak sedikitpun berani memikirkan Rian sampai mimpi itu menghampiri bunga tidurnya. Sedikit berbunga-bunga, Clara duduk di tempat tidurnya, menarik selimut tebalnya dan masih memikirkan mimpi tadi malamnya yang merupakan mimpi ketiga berturu-turut dalam malamnya.
Clara menyadari bahwa apa yang di lakukannya saat itu adalah hal bodoh. Untuk apa sekedar memikirkan mimpi yang hanya merupakan bunga tidur seseorang? Sesuatu yang mungkin pernah di indam-idamkan oleh Clara dulu yang tidak sempat di lakukan oleh Rian untuk nya. Tapi pemikiran lain muncul dalam benak Clara. Tatapan itu... Senyumannya... Semuanya sama persis dengan apa yang pernah di rasakan oleh Clara dulu. Entahlah. Itu toh kembali hanya merupakan sebuah mimpi yang kebetulan membuat Clara kembali mengingat Rian. Mimpi di hari pertama mengingatkan kenangan manis Clara dengan Rian. Karena itulah Clara lalu mulai memikirkan mimpinya sampai akhirnya terbawa kepada mimpi kedua di malam keduanya, dan begitu selanjutnya sampai ia sendiri heran akan mimpi yang sama selama tiga hari berturut-turut. Senangkah Clara? Atau justru ia harusnya merasakan sedih karena itu hanya keinganannya dulu yang tidak sempat ia lakukan dengan Rian?
Kali ini Clara memilih bangun dan mengecek emailnya. Clara duduk terdiam, sebelum akhirnya mencari nama seseorang buddy contactnya. Rian. Clara mulai mengetik satu dua kata, lalu menghapusnya lagi. Kembali mengetik sesuatu, lalu menghapusnya kembali sampai akhirnya ia menemukan kata yang tepat, lalu menekan huruf enter dengan cepat sebelum ia berubah pikiran. Tidak berapa lama setelah itu, muncul balasan dari Rian.
“Aku baik. Kamu?” dan semuanya berlangsung cepat setelahnya.
Hubungan mereka baik. Sepertinya sudah benar-benar lupa kalau mereka memiliki hubungan khusus dulu. Hubungan yang pernah membawa mereka sampai tahun ketiga berhubungan dan berakhir dengan sedikit mengenaskan. Sampai akhirnya Rian dan Clara sama-sama menemukan pecahan hatinya yang hilang dan memberikannya kepada orang lain yang menyayangi keduanya dengan lebih baik.
Di sela-sela pembicaraan mereka, Rian menyelipkan kalimat-kalimat lucu yang mau tak mau membuat Clara sedikit bernostalgia karenanya.
“Aku rasa bahwa semua orang scorpio itu sama saja. Selalu ingin di temani dan terkadang tidak menyadari bahwa pasangannya sedang sibuk.” Kata Rian saat itu.
“Aku tidak seperti itu kan?” Kata Clara dan langsung di sambut dengan kalimat balasan cepat Dari Rian.
“Justru kamu seperti itu. Selalu minta di temani padahal tau bahwa aku sedang sibuk dan memiliki urusan lain.” Dan Clara tersenyum. Kenangan itu tidak sepenuhnya di buang oleh Rian. Ia tau bahwa Rian masih mengenal dirinya dan belum melupakan Clara sepenuhnya seperti sifatnya yang selalu ingin di temani dan ia berbintang scorpio. Clara senang karena Rian masih mengingat sifat nya walaupun itu dari sisi negative Clara. Tetapi hal tersebut tidak berlangsung lam karena Clara tau, bahwa Rian bukan tipe laki-laki yang mudah melupakan sesuatu. Clara berani menjamin bahwa Rian pasti masih mengingat kenangan hangatnya dengan Verlyta dulu karena hubungan mereka kandas bukan karena keduanya bertengkar hebat sebelum berpisah. Bukan seperti Rian dan Clara dulu yang harus melibatkan orang-orang terdekat mereka untuk menyelesaikan masalah. Tetapi kini Clara lebih bahagia. Bahagia karena ia kini bersama Cleo dan hubungannya dengan Rian tidak lagi berstatus “musuh” dan “dendam”, melainkan seperti seorang teman lama.
Sebelum menyelesaikan percakapannya dengan Rian, Clara sempat melontarkan satu pertanyaan ringan. Clara ingin agar Rian tau bahwa dirinya juga masih mengingat kenangan tentang mereka dulu.
“Rian… bagaimana kabar anjingmu?”
“Lucky? Ia baik.”
***
Cerita ini tidak seperti dua cerita sebelumnya. Walaupun nama dan karakternya sama, tetapi cerita di atas murni karangan. Hanya ingin kembali mengisahkan sosok Clara yang tidak lagi terpaut dengan dunia nyata dan tidak bermaksud menyinggung atau menyakiti pihak-pihak terkait di atas.
Semoga ceritanya tidak membosankan teman-teman. Selamat membaca.

June 24, 2011

Tidak Ingin di pendam sendiri

Sudah lama. Bahkan lama sekali aku tidak berani bahkan hanya menatap wajahnya lewat sebuah bingkaian foto. Lama sampai akhirnya aku memberanikannya. Dan hanya dengan membuka dan melihat kembali wajah itu, rasanya seluruh tubuhku kembali merinding. Sensasi aneh. Karena walaupun sudah lama ini berakhir, tidak pernah sedikitpun aku berani menatap dirinya. Walaupun beberapa kali kami berkomunikasi seperti teman biasa, aku tetap tidak berani melihatnya. Dan sekarang.. Rasa aneh itu diam-diam kembali mengusik hatiku. Ingin melihat, tapi takut. Bila dilihat, jangan-jangan aku malah memikirkannya.
Tidak jarang dia menyelinap masuk dalam bunga tidurku. Ia bolak-balik masuk ke dalam kehidupanku tanpa bisa ku hindari. Keinginanku? Aku tidak ingin ia kembali mengotak-atik hidupku. Tapi tidak semua bisa ku atur dengan sempurna. Bahkan sampai kapanpun, kurasa keinginanku untuk menghapus dirinya dalam ingatanku cukup terdengar mustahil. Kecuali yaah.. aku benar-benar lupa ingatan.
Yang aku pikirkan saat ini, adalah bagaimana seseorang itu lalu tau bahwa dia masih berada dalam memori otakku. Seseorang yang tidak terduga. Dan mungkin setelah kembali menelaah lebih jauh, orang-orang akan mengatakan, itu dia. Itu pasti dia. Orang-orang akan menjudge aku dengan berbagai tuduhan, “Kenapa masih memikirkannya? Salah mu sendiri masih berani berkomunikasi dengannya.” Kembali aku ingatkan, sosok ini adalah orang yang tidak terduga yang pernah masuk ke dalam hidupku. 

Template by:

Free Blog Templates